October 11, 2007

PENDIDIKAN: Penciptaan Sebuah Robot

Filed under: Robot

Pendidikan merupakan hak asasi setiap generasi. Pendidikan merupakan sebuah proses pembangunan kerangka berpikir manusia sejak ia berada di permukaan bumi. Undang-Undang Dasar negeri ini telah mengamanatkan agar pendidikan merupakan salah satu hak dasar yang harus diterima oleh warganya.

Kondisi kekinian dunia pendidikan di negeri ini sangatlah mengiris keyakinan. Proses-proses pendidikan yang terbangun adalah sebuah ruang terbatas bagi penciptaan mesin-mesin (robot) pekerja yang hanya memiliki kemampuan berpikir statis, bukan pada sebuah proses penciptaan manusia pemikir yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kehidupan di permukaan bumi ini.

Tingginya biaya pendidikan telah menjadi sebuah permasalahan pertama di dunia pendidikan. Pendidikan menjadi hanya milik kelompok kelas menengah dan atas, sedangkan pada warga miskin, pendidikan menjadi sebuah barang yang sangat sukar untuk dijangkau. Walaupun telah ada sebuah pijakan dengan berbagai slogan, semisal wajib belajar 9 tahun hingga pendidikan gratis, namun kenyataannya sekolah sebagai wadah pendidikan telah menjadi media bisnis.

Semakin menurunnya kualitas pembelajaran di dalam lingkungan sekolah telah menjadikan semakin suburnya bisnis-bisnis pendidikan luar sekolah yang senyatanya hanya untuk menjadikan pendidikan dimiliki hanya oleh mereka yang punya kekayaan. Kursus, bimbingan belajar, hingga bimbingan keterampilan telah menjadi menu pokok bagi anak, bukan lagi menjadi menu sampingan, dikarenakan kualitas pembelajaran di sekolah yang tak mampu memenuhkan hal tersebut.

Sementara dari kualitas guru yang dihasilkan oleh lembaga penghasil guru, menciptakan begitu banyaknya guru hanya berpikir pada sebuah capaian tertulis, bukan pada pengembangan kemampuan berpikir anak. Telah terpenuhinnya catatan, nilai evaluasi belajar yang tinggi, hingga menjadi juaranya anak pada lomba keilmuan telah menjadikan otak anak menjadi sebuah memori komputer yang tak memiliki sebuah kemampuan berkreasi.

Dari kesemuanya, kemudian dunia pendidikan semakin ditekan dengan kepentingan pemodal yang menciptakan kebutuhan pekerja, bukan manusia pemikir, sehingga pendidikan hanya diarahkan pada memenuhi kebutuhan lapangan kerja, tidak untuk menghadirkan ruang aktivitas baru dalam penjalanan kehidupan.

Paulo Freire pernah menyampaikan bahwa pendidikan adalah sebagai praktek pembebasan, bukanlah transfer atau transmisi pengetahuan yang terdapat dari berbagai kebudayaan. Pendidikan juga bukan perluasan pengetahuan teknis. Pendidikan bukan aksi untuk mendepositokan informasi-informasi atau fakta-fakta kepada siswa. Pendidikan bukanlah pelanggengan nilai-nilai dalam sebuah kebudayaan. Pendidikan bukanlah sebuah upaya mengadaptasikan siswa dengan keadaan. Freire memandang pendidikan sebagai praktek pembebasan di atas seluru situasi gnosiologikal yang sebenarnya.

Apa yang diungkapkan oleh seorang Freire mungkin bukan hal baru juga bagi sebagian besar warga negeri ini, hanya kemudian menjadi semakin terbelenggu oleh sistem yang dibangun oleh kepentingan penguasa dalam beberapa waktu lalu menjadikan terjadinya pembelengguan kreatifitas dan gagasan baru di berbagai tingkatan.

Masih belum terlupakan di saat tahun 1980-an, dunia kampus dibelenggu dengan kebijakan NKK/BKK. Dengan kemudian dilakukan pelabelan besar-besaran untuk membangun permusuhan dengan pengetahuan filsuf Eropa dan Rusia. Kemudian pengekangan semakin dikuatkan dengan lembaga-lembaga berlabel keagamaan, yang membangun pertengkaran antar manusia. Sangat menyedihkan ketika ternyata itu terjadi disaat belum terlalu utuh melihat sebuah nilai yang coba ditawarkan.

Ketika kemudian sejak tahun 1960-an, modal asing mulai mencengkramkan dirinya di negeri ini, sangat terlihat jelas sebagian besar wilayah kreatifitas dan ruang ekspresi warga dipenjarakan. Sistem pendidikan sebagai sebuah ruang awal kemerdekaan negeri ini dikuasai oleh kurikulum titipan pemodal. Menciptakan robot pekerja. Sehingga kemudian ketika lahir berbagai penemu di negeri ini, harus rela meninggalkan negeri untuk lebih dapat mengembangkan kapasitas dan mengekspresikan dirinya bagi kemajuan peradaban dunia.

Darmaningtyas dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Rusak-Rusakan menyampaikan bahwa ada banyak hal yang membuat pendidikan melenceng semakin jauh dari cita-cita idealnya. Semakin elitis dan tak terjangkaunya pendidikan oleh rakyat miskin, pengelolaan pendidikan yang birokratis dan hegemonik, hingga begitu banyaknya malpraktek di dunia pendidikan, telah berkontribusi bagi kehancuran generasi kemudian di negeri ini.

Semakin tingginya korupsi, menjamurnya bisnis pendidikan, hingga saling lempar tanggung jawab menjadikan dunia pendidikan negeri ini tak pernah beranjak dari keterpurukannya. Bila melihat pada sebuah undang-undang yang pernah dihadirkan di negeri ini pada tahun 1950, jelas tersampaikan bahwa tujuan pendidikan ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sementara dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan hanyalah sebuah normatif bahkan kurang mudah dilaksanakan.

Lebih jauh ketika memandang pengelolaan pendidikan hari ini, maka sangat terlihat bahwa kualitas guru yang hadir hari ini adalah buah dari sebuah produk yang tidak sempurna. Hilangnya nilai-nilai kemanusian pada sebagian guru, lebih disebabkan karena tekanan kehidupan yang dimiliki oleh para guru ditambah dengan minimnya pengetahuan dan kreatifitas yang dimiliki. Tingginya biaya untuk menjadi guru hingga rendahnya gaji guru telah menumbuhkan hilangnya rasa kemanusiaan dari dunia pendidikan. Ditambah dengan sebuah kurikulum pendidikan guru yang bersifat kinetis mekanis, telah membangun dinding pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif dari seorang guru.

Bukan salah kemudian ketika terjadi kasus aborsi, hamil muda, penggunaan narkoba, hingga tindakan lain oleh siswa yang dianggap sebagai kejahatan, maka dunia pendidikan seolah memusuhi, bukan berupaya untuk memberikan bantuan psikologis terhadap siswa tersebut. Skorsing hingga dikeluarkan dari sekolah, seolah menjadi satu-satunya solusi agar tak tercemarkan nama baik sekolah. Menjauhkan para siswa yang bisa jadi dibentuk oleh dunia pendidikan itu sendiri, malah dibiarkan untuk menggung resiko sendiri. Akhirnya bukan menjadikan negeri ini lebih baik, namun bukan tidak mungkin akan menjadikan negeri ini semakin meningkat jumlah kejadian kejahatan dan tindakan yang tidak diharapkan.

Sudah saatnya dunia pendidikan negeri ini meletakkan kembali cita-cita pendidikan yang pernah digaungkan sebelum negeri ini merdeka. Pendidikan di negeri ini sudah saatnya bukan untuk mengekor pada kepentingan negara utara. Begitu banyak kekayaan alam negeri ini tentunya akan menghasilkan lebih banyak pemikir-pemikir baru yang akan lebih baik dibandingkan pemikir di negara utara. Memperbaiki sistem pengelolaan pendidikan, mulai di wilayah pendidik, hingga pada fasilitas pendidikan, harus menjadi agenda utama. Mendekatkan kembali pendidikan negeri ini pada budaya dan alam negeri ini tentunya akan menghasilkan suasana negeri yang lebih baik.

Perombakan mendasar pada kurikulum pendidikan dasar hingga menengah, serta perubahan kurikulum dan memperbanyak ragam bahan bacaan pada tingkat pendidikan tinggi sudah saatnya dilakukan, agar tidak lagi menjadikan pendidikan sebagai sebuah pabrik penghasil robot. Menata ulang sistem pendidikan tidak harus menunggu dari pemerintah pusat yang pasti tidak akan pernah berpikir untuk kebaikan negeri ini. Membangun dari sebuah komunitas terkecil akan lebih berharga.

Pendidikan berkualitas bagi rakyat sudah harus menjadi agenda penting kepala desa di negeri ini. Lupakanlah berharap pada pelaku politik dan pemerintahan, karena mereka hanya akan menciptakan ketergantungan berkelanjutan pada kepentingan pemodal asing, serta hanya bisa menggadaikan negeri ini pada penjajah.

Dan penting bagi mereka yang telah pernah memperoleh pendidikan untuk terus bergerak, berjuang dan menyuarakan ketidakadilan di negeri ini agar kemudian di generasi mendatang akan tercipta generasi yang dekat dengan alam, menghargai arti kemanusiaan, mandiri, berkecukupan dan demokratis.

Studi Eksperimental tentang Pengaruh Sudut Putar terhadap Gaya Angkat untuk Berbagai Sudut Potong pada Bola

Filed under: Turning
Studi eksperimental tentang pengaruh sudut putar terhadap gaya angkat untuk berbagai sudut potong pada bola telah dilakukan. Sudut potong yang digunakan adalah 30o, 45o, 53o, 55o, dan 75o. Gaya angkat diukur dengan menggunakan timbangan gaya pada terowongan angin dan kecepatan angin diatur sehingga didapat bilangan Reynolds aliran 5,3 x 104 dan 6,0 x 104. Sudut putar aliran divariasikan dari 0o sampai 60o. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya angkat naik bila sudut putar naik. Pada sudut putar tertentu gaya angkat mencapai maksimum dan setelah sudut tersebut gaya angkat turun. Selanjutnya, untuk sudut putar tertentu, bila sudut potong naik gaya angkat juga naik.
 
 
An experimental study on the effect of turning angle on lift force for various cut angles on spheres is performed. The cut angles used were : 30, 45, 53, 55, and 75. Lift force was measured using a wind tunnel force balance and the wind speed was set so that a corresponding Reynolds number of 5.3 x 104 was achieved. Wind turning angle was varied from 0 to 60. Experimental results show that, in general, lift increases as the turning angle increases. At a particular turning angle lift attains a maximum and beyond that turning angle lift decreases. Next, for particular turning angle, as the sphere cut angle increases the lift also increases.

Peningkatan Unjuk Kerja Desain Flexible Shield untuk Pompa Sabun Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga

Filed under: Turning
Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal iniini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm.
Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point.
Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan).

PENGENDALIAN KECEPATAN PUTAR MOTOR INDUKSI 1 PHASA (TURNING SPEED CONTROLLING OF 1 PHASA INDUCTION MOTOR)

Filed under: Turning
Motor Induksi adalah salah satu jenis mesin listrik yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik untuk industri (paling banyak motor induksi 3 phasa) ataupun rumah tangga (paling banyak motor induksi 1 phasa). Faktor yang menyebabkan hal tersebut karena motor induksi memiliki beberapa kelebihan antara lain: harga lebih murah, mudah dalam perawatan, konstruksi sederhana, tetapi motor induksi juga memiliki kekurangan antara lain: motor induksi memiliki nilai slip (perbedaan kecepatan putar medan stator terhadap kecepatan medan rotor) yang sangat besar, motor induksi sulit dalam pengen-dalian kecepatan putarnya. Beberapa metode yang digunakan dalam pengen-dalian kecepatan putar motor induksi adalah metode pengendalian motor induksi dengan pengaturan frekuensi input, metode pengendalian motor induksi dengan mengatur nilai tegangan input. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengaturan nilai tegangan input karena dinilai lebih murah dibanding dengan metode pengaturan frekuensi input, alat pengendali yang digunakan mengatur nilai tegangan menggunakan komponen jenis Triac dan Diac, dalam pengujian tegangan input mulai 10 Volt - 170 Volt, pada saat 10 – 40 Volt motor induksi tetap berhenti, pada saat tegangan input 50 Volt motor induksi mulai berputar dengan kecepatan 401.1 Rpm, pada saat tegangan input 60 – 150 Volt ke-naikan kecepatan putar motor induksi sangat signifikan, kecepatan putar motor induksi pada saat 160 keatas mulai menunjukkan kecilnya perubahan kecepatan putar.
October 8, 2007

Filed under: Robot

transformer 

Itulah tema besar dari film terbaru Steven Spielberg, Transformers. Setelah komik dan serial kartun, sekarang menjadi film layar lebar. Film layar lebar ini merupakan gabungan yang baik antara pemain manusia serta animasi grafis dari Industrial Lights and Magic. Kombinasi keduanya sangat halus, sehingga semuanya terasa nyata.

Sayangnya, alur cerita tidak mengikuti kehalusan grafis. Introduksi terasa cukup lambat, diikuti konflik yang membingungkan (karena terdapat banyak pihak yang terlibat), dan akhirnya klimaks yang singkat dan kurang mengejutkan.

Di luar kedua hal tersebut, film ini menyajikan banyak humor yang menghibur tanpa perlu mengumbar seks (seperti yang terjadi pada banyak film Hollywood lainnya). Rating Remaja yang diberikan untuk film ini cukup tepat karena terdapat beberapa fragmen yang tidak sesuai untuk anak-anak kecil.

October 1, 2007

beberapa masukan

Filed under: Milling
Pengaruh Penyetelan Udara dan Pemakaian Jenis Bahan Bakar Terhadap Emisi Gas Buang Pada Motor 2 Tak: Jenis Suzuki Tornado (Tuwoso, Universitas Negeri Malang)
Abstrak: Banyak sumber polusi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengotoran udara, salah satunya adalah emisi gas buang kendaraan bermotor. Proses pembakaran dalam silinder motor menghasilkan emisi gas buang yang berupa CO, NOx, SO, H2S, HC, dan CO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan emisi gas buang (CO, NOx, SO, dan H2S) pada pemakaian jenis bahan bakar (premium dan petro-2T) dan penyetelan udara (1,5 putaran dan 2 putaran) untuk kendaraan jenis Suzuki Tornado. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen dua jalur dengan dua kelompok eksperimen, pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, sedangkan instrumen pengukurannya adalah exhause gas analyzers. Hasil analisis varian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan emisi gas CO, NO2, SO, dan H2S pada penyetelan udara dan pemakaian jenis bahan bakar pada kendaraan Suzuki Tornado pad kondisi stasioner.
  • Instalasi Saluran Gas Buang Untuk Mereduksi Kadar Racun Karboksihemoglobin dalam Darah pada Waktu Praktikum Mata Kuliah Motor Bensin (Marji, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Peneitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas instalasi saluran gas buang untuk mereduksi kadar racun karboksihemoglobin dalam darah akibat paparan gas buang CO yang ditimbulkan oleh engine stand. Sebagai sampel diambil 40 mahasiswa yang terdiri dari 20 kelompok perlakuan dan 20 kelompok kontrol. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan (p = 0,0000) kadar racun karboksihemoglobin dalam darah praktikan sebelum dan sesudah praktikum menggunakan instalasi standar. Setelah diberi instalasi saluran gas buang yang dimodifikasi sebelum dan sesudah praktikum menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p = 0,169) berarti tidak ada kenaikan yang berarti. Perbandingan penggunaan instalasi saluran gas buang (modifikasi) dengan saluran standar (tanpa instalasi) diperoleh perbedaan yang signifikan (p = 0,0480). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan instalasi saluran gas buang dapat mereduksi kadar racun karboksihemoglobin dalam darah yang efektif.
  • Perbedaan Posisi Pengelasan Ergonomis terhadap Produktivitas Hasil Gas (Solichin, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Tujuan penelitian untuk menguji spesifikasi pengaruh posisi pengelasan terhadap produktivitas las dengan pendekatan ergonomi pada mahasiswa PTM FPTK IKIP Malang. Sampel 30 orang dibagi dalam 3 kelompok dikondisikan memperoleh perlakuan yang sama dalam melakukan pengelasan posisi jongkok, posisi membungkuk, dan posisi berdiri kemudian diukur produktivitas masing-masing dengan memperhitungkan allowance factor dan rating factor. Temuan penelitian ini adalah: terdapat perbedaan yang signifikan posisi pengelasan terhadap produktivitas pada pengelasan posisi membungkuk dengan posisi berdiri dan posisi jongkok.
  • Optimasi Algoritme FFT Split Radix (Wahyu Sakti Gunawan Irianto, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Algoritma dasar FFT Split Radix merupakan algoritma yang efisien untuk menghitung Discrete Fourier Transform (DFT). Parameter utama yang menentukan waktu komputasi algoritma FFT Split Radix adalah cacah perkalian dan cacah penjumlahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari satu bentuk algoritma FFT Split Radix yang berkinerja optimum, melalui modifikasi algoritma dasar FFT Split Radix sehingga cacah perkalian dan cacah penjumlahannya minimum. Metode yang digunakan untuk mendapatkan kinerja algoritma FFT Split Radix yang optimum adalah: (1) mereduksi cacah perkalian dan cacah penjumlahan algoritma dasar FFT Split Radix melalui nilai sinus dan cosinus yang besarnya diketahui; (2) memodifikasi bentuk algoritma FFT Split Radix, sehingga melibatkan 3 operasi perkalian dan 3 operasi penjumlahan untuk manipulasi satu bilangan kompleks; dan (3) menabelkan nilai sinus dan cosinus dalam bentuk array. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk titik transformasi sebesar N = 2^M, reduksi cacah perkalian yang dihasilkan adalah: (1/3)MN - (19/9)N + (1/9)(-1)^M - 4, sedangkan reduksi cacah penjumlahannya adalah: (-1/3)MN + (23/9)N + (4/9)(-1)^M - 4. Meskipun bentuk algoritma yang dimodifikasi menjadi lebih panjang, namun dengan metode yang dilakukan diperoleh kinerja algortma FFT Split Radix yang optimum.
  • Kajian Empiris Pembendungan di Hulu Karamba dengan Ujung dan Pangkal Berbentuk Lengkung (Karyadi, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Pembendungan yang terjadi akibat penempatan karamba di saluran irigasi dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada operasi dan pemeliharaan jaringan-jaringan irigasi. Untuk itu perlu dipikirkan bentuk karamba yang dapat memperkecil terjadinya pembendungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan model matematika penbendungan di hulu karamba dengan ujung dan pangkal berbentuk kengkung. Dengan model matematika tersebut diharapkan dapat dibuat perbandingan tinggi pembendungan yang ditimbulkan oleh karamba dalam penelitian ini dengan karamba bentuk lain. Model matematika tersebut dikembangkan berdasarkan data kinerja model fisik yang dibuat berdasarkan analisis dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pembendungan di hulu karamba dengan ujung dan pangkal berbentuk lengkung lebih kecil dibandingkan dengan tinggi pembendungan di hulu karamba berbentuk empat persegi panjang meupun karamba dengan ujung dan pangkal berbentuk lancip yang telah dikaji oleh peneliti sebelumnya.
  • Perancangan Perangkat Lunak Sistem Berbasis Aturan untuk Analisis Vibrasi Mesin Rotasi (Riyanarto Sarno, ITS Surabaya)
    Abstrak:
    Masalah mekanis pada mesin rotasi dapat diagnosis melalui analisis vibrasi yang terjadi pada saat mesin sedang beroperasi. Artikel ini mengajukan rancangan perangkat lunak sistem berbasis aturan (rule based system) untuk menganalisis vibrasi yang ditimbulkan oleh masalah mekanis pada mesin rotasi. Metode Fast Fourier Transforms digunakan untuk mengubah sinyal vibrasi dari domain waktu ke domain frekuensi, kemudian analisis dilakukan pada domain frekuensi untuk mendapatkan hasil yang akurat. Keberhasilan sistem ini tergantung pada kualitas data vibrasi dari transduser dan pengolahannya menjadi parameter domain serta kelengkapan aturan beserta proses interferensinya.
  • Analisis Derau dalam Perancangan Rangkaian Terintegrasi Op-Amp (Siti Sendari dan Tibyani, Universitas Brawijaya)
    Abstrak:
    Perancangan IC Op-Amp, memerlukan spesifikasi-spesifikasi yang meliputi parameter proses dan parameter perancangan. Dalam menentukan parameter perancangan, derau merupakan suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan, karena derau dapat menentukan keandalan perancangan. Untuk menganalisis derau pada IC Op-Amp langkah pertama yang harus diketahui adalah sumber-sumber derau, setelah itu dilakukan analisis derau baik secara teoritis maupun secara simulasi untuk mengetahui derau yang mungkin terjadi dalam perancangan IC, apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan atau tidak. Untuk simulasi derau dapat dilakukan dengan program Spice.
  • Evaluasi Proses Chemical Milling terhadap Perilaku Perambatan Retak Lelah pada Panduan Aluminium (Andoko, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Proses chemical milling merupakan proses non traditional yang mampu mengurangi dimensi benda, apabila pada proses traditional machine sulit dilakukan. Akan tetapi kelemahan dari proses chemical milling adalah terjadi pengikisan permukaan, sehingga menyebabkan permukaan menjadi kasar. Kekasaran permukaan akibat proses chemical milling akan menimbulkan konsentrasi tegangan, dan hal itu berakibat timbul initial crack, sehingga akan mempercepat laju perambatan retak. Keberhasilan proses chemical milling juga sangat ditentukan oleh larutan etsa serta jenis maskant yang digunakan. Larutan etsa yang biasa digunakan untuk proses chemical milling adalah: NaOH, Na2S, HCl, dan HNO3. Sedangkan bahan maskant yang digunakan meliputi neoprene, polyvinilcloride, dan polyethiline.
  • Evaluasi Purnahuni terhadap Aspek Kualitatif pada Penghuni Perumahan Rumah Susun dan Rumah sangat Sederhana (Bambang Djatmiko, Universitas Negeri Malang)
    Abstrak:
    Pembangunan rumah susun (rusun) dan tipe rumah sangat sederhana (RSS) dengan segala fasilitas pendukung yang disediakan belum dapat memenuhi kebutuhan kualitatif penghuninya. Padahal bangunan fisik rumah harus mampu memberikan perlindungan terhadap kebutuhan fisik, sosial, maupun psikologis penghuninya. Pembangunan rusun atau RSS bukan hanya merupakan urusan rekayasa dan teknologi, namun juga merupakan fenomena sosial budaya karena erat kaitannya dengan manusia sebagai penghuninya. Konsep pembangunan rusun dan rumah untuk masyarakat kelas bawah di Indonesia masih membingungkan, dimana perancang membangun tanpa mengerti benar konsepnya. Oleh karena itu, untuk mempelajari sejauh mana rusun dan RSS yang telah ada mampu memenuhi tuntutan penghuni dalam aspek kualitatif, perlu dilakukan kajian. Kajian purnahuni sangat perlu dilakukan, guna mengetahui sejauh mana penghuni merasa puas atau senang terhadap rumah yang telah dihuninya dan sekaligus sebagai tolok ukur guna menilai keberhasilan pembangunan perumahan.
Sistem Penataan Ruang, Sirkulasi Udara, dan Pencahayaan Alami pada Pengembangan Rumah Tipe 21 (Priyono, Universitas Negeri Malang)
Abstrak: Luas lantai bengunan rumah tinggal type 21 yang hanya 21 m2 tentu tidak layak untuk dihuni oleh suatu keluarga. Agar layak untuk dihuni, maka penghuni harus mengembangkan rumah induk sesuai dengan luas sisa tanah yang tersedia serta kemampuan ekonomi penghuninya. Pengembangan rumah yang dilakukan oleh penghuni sendiri, cenderung tidak memperhatikan faktor-faktor teknik maupun faktor-faktor arsitektur. Akibatnya pengembangan rumah sering tidak sesuai dengan kaidah-kaidah keteknikan dan kearsitekturan. Pengembangan rumah yang seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan sick biulding syndrome, yaitu reaksi penghuni bangunan terhadap akumulasi debu, uap, gas, fungi, bakteri, dan pencemar-pencemar lain yang terperangkap dalam bangunan. Guna menghindari sick building syndrome ini, maka dalam pengembangan rumah harus diper

sebuah mesin milling

Filed under: Milling

Sebuah mesin milling manual dengan 3 sumbu dioperasikan oleh petugas operator manusia dengan menggerakan mata milling atau obyek miling sepanjang arah ketiga sumbu tadi (XYZ) menggunakan tuas penggerak. Ketepatan dan kecepatan hasil proses milling manual ini akan sangat tergantung pada kondisi petugas operator yang bersangkutan, baik secara tingkat ketrampilan, kelelahan dan emosi.

Dengan retrofit, semua tuas penggerak pada ketiga sumbu tersebut dipasangi motor servo yang canggih, kuat dan presisi. Pergerakan motor servo ini akan menentukan pergerakan disepanjang ketiga sumbu tadi (XYZ). Pergerakan motor servo ini, baik kecepatan maupun arahnya, dikendalikan oleh sinyal-sinyal kontrol yang dikeluarkan oleh SmartMILL Main Control Unit (MCU). Main Control Unit menerima informasi proses pengerjaan milling berupa data dalam bentuk format G-Code dari komputer melalui perantaraan kabel data yang menghubungkan komputer (SmartMILL PC) dengan mesin milling (SmartMILL Machine) dan software SmartMILL Control Driver.

Data G-Code adalah format data standart yang digunakan dalam dunia CAD/CAM yang berhubungan dengan proses pengerjaan dengan mesin seperti milling, cutting, gravir dll. Format data ini disediakan oleh hampir semua software aplikasi CAD/CAM terkemuka.

Dengan demikian anda dapat menyiapkan perintah pengerjaan milling yang anda perlukan dengan menggunakan perangkat lunak CAD/CAM yang anda kuasai. Atau jika desainnya tidak kompleks dapat juga anda langsung mengetikkan perintah G-Code tersebut pada editor yang disediakan oleh software SmartMILL Control Driver yang terdapat pada paket SmartMILL.

Hasil akhir yang terpenting adalah anda dapat melakukan proses milling dengan lebih akurat, cepat dan konsisten tanpa terlalu tergantung pada petugas operator mesin.

KEBUTUHAN RMU SECARA NASIONAL, 2004

Filed under: Milling

Jumlah Rice Milling Unit (RMU) yang tersedia mencapai 46.238 unit. Meskipun secara nasional masih kekurangan sebanyak 25.229 unit, namun di beberapa propinsi di berbagai wilayah Sumatera dan Sulawesi telah terjadi kelebihan alat. Secara wilayah kelebihan alat ada di Sulawesi, yaitu sebanyak 579 unit yang tersebar di 3 propinsi dan. Di wilayah Sumatera, terdapat 6 propinsi yang kelebihan RMU, namun demikian secara wilayah masih membutuhkan RMU sebanyak 3.481 unit. Begitu pula di wilayah Kalimantan, secara keseluruhan masih membutuhkan alat RMU sebanyak 114 unit namun di beberapa propinsi ada kebihan alat, yaitu di Kalbar dan Kaltim.

  Tabel 5b. JUMLAH DAN KEKURANGAN RICE MILLING UNIT DI INDONESIA

No.

Propinsi

Produksi

Padi 2003

(Ton)

Realisasi Pemanfaatan alsin

Total Alat

tersedia

(BPS 2002)

Areal yang

dapat diatangani

alat (ton)

Areal yg belum

dapat ditangani

alat (ton)

Total

Kekurangan

Alat (unit)

 

1

2

3

4 = (3 x kap)

5 = (2-4)

6 = (5 : kap x cf)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

N. Aceh. D

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Bangka Belitung

1.454.128

 3.391.844

 1.793.598

 408.853

 596.065

 1.903.262

 425.870

 1.913.851

 17.013 

313

 1.323

 3.038

 624

 1.087

 4.300

 704

 2.028

 88 

125.200

 529.200

 1.215.200

 249.600

 434.800

 1.720.000

 281.600

 811.200

 35.200

747.277

1.505.906

-139.041

-4.288

-77.161

-578.043

-26.078

337.111

-24.992

1.495

 3.012

-278

-9

-154

-1.156

-52

674

-50

SUMATERA

11.904.484  

13.505

5.402.000

1.740.690

3.481

9

10

11

12

13

 

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

D.I Yogyakarta

Jawa Timur

Banten

7.492

 8.880.887

 8.207.893

 643.988

 8.856.116

 1.683.469

-

 3.995

 5.886

 828

 4.622

 431

-

 1.598.000

 2.354.400

 331.200

 1.848.800

 172.400

4.495

3.730.532

2.570.336

55.193

3.464.870

837.681

9

 7.461

5.141

110

6.930

1.675

J A W A

28.279.845

15.762

6.304.800

10.663.107

21.326

14

15

16

Bali

N.T.B

N.T.T

811.470

 1.419.166

 474.735

1.101

 815

 1.054

440.400

 326.000

 421.600

46.482

525.500

-136.759

93

1.051

-274

Bali & Nusa Tenggara

2.705.371

2.970

1.188.000

435.223

870

17

18

19

20

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

1.015.480

 511.071

 1.469.354

 447.491

3.044

 517

 711

 751

1.217.600

 206.800

 284.400

 300.400

-608.312

99.843

597.212

-31.905

-1.217

200

1.194

-64

KALIMANTAN

3.443.396

5.023

2.009.200

56.838

114

21

22

23

24

 25

Sulawesi Utara

Sulawesi Tengah

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara

 Gorontalo

369.227

 643.593

 3.985.927

 314.517

 113.091

467

 1.078

 6.455

 762

 101

186.800

 431.200

 2.582.000

 304.800

 40.400

34.736

-45.044

-190.444

-116.090

27.455

69

-90

-381

-232

55

SULAWESI

5.426.355

8.863

3.545.200

-289.387

-579

25

26

Maluku

Irian Jaya

31.464

 58.283

46 *

20 *

18.400

 27.600

478

7.370

1

15

Maluku & Irja

89.747

 66 *

46.000

7.848

16

 

INDONESIA

51.849.198  

46.238      

18.495.200

12.614.319

25.229

Sumber :

1. Statistik Pertanian 2003, Departemen Pertanian

2. Laporan Daerah per Desember 2002

3. Laporan Akhir Buku 3, SPL-JBIC INP-22

4. Alat-alat Pertanian menurut propinsi dan Kabupaten di Indonesia, BPS 2002

Keterangan :

kap = kapasitas alat : 400 ton/unit/tahun

cf : corection factor 0.8

konversi GKG ke beras = 60%

*) Data menurut lap. Daerah per Des 02

 

satuan acara perkuliahan proses produksi

Filed under: Grinding

 


Minggu ke

Pokok Bahasan dan TIU

Sub Pokok Bahasan dan TIK

Teknik Pembelajaran

Media Pembelajaran

Tugas

Referensi

 

1

Sejarah perkembangan proses memproduksi dan elemen dasar mesin perkakas.

 

TIU :

Mahasiswa dapat memahami perkembangan dari proses produksi dan elemen dasar mesin perkakas serta hubungannya dengan memproduksi suatu produk

 

¨       Dasar-dasar pengerjaan logam dan non logam.

¨       2. Pengenalan mesin perkakas.

¨       3. Pengenalan perkakas bantu.

 

Sasaran Belajar :

§         Memahami sejarah perkembangan proses memproduksi.

§         Mengerti dasar-dasar pengerjaan logam dan non logam.

§         Memahami mesin perkakas dan perkakas bantu.

 

Tujuan :

 Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dasar proses pengerjaan logam serta pemahaman mengenai jenis-jenis mesin produksi, proses produksi dan klasifikasinya.

 

Kompetensi lulusan :

Sarjana dengan kemampuan penerapan metoda atau cara terbaik dan penguasaan teknologi dalam memecahkan masalah sistem integral di Industri, melalui penerapan metodologi, alat analisis, prinsip-prinsip optimasi dan Industrial Expertize.

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

2

Metrologi dan Pengendalian Numerik.

 

TIU :

Mahasiswa dapat memahami konsep metrologi dan pengendaliannya secara numerik khususnya dalam industri manufaktur

 

¨       Pengantar kualitas dimensi.

¨       Toleransi.

¨       Dasar pengukuran dan alat ukur.

 

Sasaran Belajar :

§         Memahami dasar pengukuran dan alat ukur serta toleransinya.

§         Mengetahui kualitas dimensi.

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

3

Memotong logam dan mesin bubut.

 

 

TIU :

Mahasiswa dapat memahami teknik pemotongan logam, menghitung kecepatan potong, dan tata cara kerja mesin bubut.

 

¨       Perkakas pemotong logam.

¨       Kecepatan potong dan hantaran.

¨       Cara kerja mesin bubut.

¨       Macam-macam mesin bubut.

Sasaran Belajar :

§         Memahami perkakas pemotong logam, kemampuan mesin dan penyelesaian permukaan.

§         Dapat menghitung kecepatan potong dan hantaran.

§         Memahami cara kerja mesin bubut dan  mecam-macam mesin bubut.

 

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

4, 5

Mesin penggurdi dan pengebor.

 

 

TIU :

Mahasiswa dapat memahami karakteristik dari mesin penggurdi dan pengebor

¨       Cara kerja mesin penggurdi.

¨       Pengelompokan dari mesin penggurdi.

¨       Cara kerja pengeboran dan macam-macam pahat bor.

 

Sasaran Belajar :

§         Memahami cara kerja mesin penggurdi dan dapat menghitung kecepatan potongnya serta macam-macam mesinnya.

§         Memahami cara kerja dari mesin pengeboran dan macam-macam pahat bor.

 

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

6, 7

Mesin fris dan pemotong fris.

 

 

TIU :

Mahasiswa dapat memahami konsep dan karakteristik dari mesin fries dan jenis-jenis mesin fries

 

¨       Cara kerja mesin fris.

¨       Macam-macam mesin fris.

¨       Kecepatan potong dan hantaran.

 

 

Sassaran Belajar :

§         Memahami cara kerja mesin fris, macam-macam mesin fris dan dapat menghitung kecepatan potong dan hantaran.

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

8.

UJIAN TENGAH SEMESTER

9

Mesin  Ketam dan mesin serut.

TIU : mahasiswa dapat memahami konsep dan karakteristik dari mesin ketam dan mesin serut.

 

1.        cara kerja dan macam-macam mesin ketam

2.        Kecepatan potong

3.        Cara kerja dan macam-macam mesin serut

 

Sasaran belajar :

1.        memahami cara kerja dan macam-macam mesin ketam serta dapat menghitung kecepatan potong

2.        Memahami cara kerja dan macam-macam mesin serut.

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

10

Mesin gergaji dan pembesar lubang (Broochung Machine)

TIU : mahasiswa dapat memahami konsep dan karakteristik dari mesin gergaji dan pembesar lubang.

 

1.        Cara kerja dan macam-macam mesin gergaji

2.        Cara kerja dan macam-macam pembesar lubang

 

Sasaran belajar :

1.        memahami cara kerja dan macam-macam mesin gergaji

2.        Memahami cara kerja dan macam-macam pembesar lubang

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

11

Mesin gerinda dan mesin amplas.

TIU : mahasiswa dapat memahami konsep dan karakyteristik dari mesin gerinda dan mesin amplas.

 

1.        Cara kerja dan macam-macam mesin gerinda

2.        Macam-macam mesin amplas.

 

Sasaran belajar :

1.        Memahami cara kerja dan macam-macam mesin gerinda serta dapat menghitung kecepatan potong

2.        Mengetahui macam-macam mesin amplas.

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

12, 13

Pengelasan

TIU : mahasiswa dapat memahami macam-macam p[engelasan.

1.        Macam-macam proses pengelasan

2.        Cara kerja dari masing-masing proses pengelasan

 

Sasaran belajar :

1.        mengetahui macam-macam proses pengelasan

2.        memahami cara kerja dari masing-masing proses pengelasan.

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

14, 15

Proses pengecoran

TIU : mahasiswa memahami proses pengecoran

1.        Prosedur pembuatan cetakan

2.        Klasifikasi cetakan

3.        Macam pola cetakan

 

Sasaran belajar :

Memahami proses pengecoran yang meliputi pembuatan cetakan, persiapan dan peleburan logam dan lain-lain yang berhubungan dengan proses pengecoran.

 

Kuliah mimbar

Papan tulis, OHP

 

1, 2 dan 3

16.

UJIAN AKHIR SEMESTER

 

ANALISIS DATA DIFRAKSI SINAR-X UNTUK OPTIMASI TRANSFORMASI KRISTAL ANATASE-RUTILE AKIBAT PENGGILINGAN DAN KALSINASI

Filed under: Milling
[ Description ]

Telah dilakukan serangkaian pengukuran dan analisis data pengukuran difraksi sinar-x untuk optimasi transformasi fasa anatase—»rutile akibat perlakuan mekanik penggilingan dan kalsinasi. Penggilingan dilakukan dengan dua metode yaitu conventional milling dan pulverisette milling. Masing-masing dilakukan variasi laju dan lama penggilingan. Perlakuan termal yang dilakukan adalah kalsinasi pada 850, 950, 975, 1000, 1050 dan 1100°C selama 1 jam. Pengamatan dan pengukuran data difraksi sinar-x dilakukan terhadap serbuk titanium dioksida as-received, serbuk hasil penggilingan dan serbuk hasil penggilingan yang dilanjutkan dengan kalsinasi untuk mengetahui optimasi transformasi fasa. Analisis lanjut data pengukuran difraksi sinar-x dilakukan dengan analisis puncak (single-line) menggunakan (a) program profile fitting, (b) program Mozaix, suatu program yang dikembangkan untuk mengetahui ukuran kristal dan distribusi, (c) penghalusan Rietveld yang dilakukan terhadap pola utuh (whole-pattern) untuk mendapatkan parameter lebar kurva Lorentzian dan Gaussian yang digunakan dalam perhitungan ukuran kristal dan regangan serta parameter keluaran persen berat fasa. Hasil analisis menunjukkan metode conventional milling memberikan parameter keluaran yang lebih baik dibanding pulverisette milling. Optimasi transformasi terjadi setelah penggilingan 3 jam. Penggilingan 3 jam mengakibatkan suhu transformasi menjadi 1000°C lebih rendah 100°C daripada suhu transformasi serbuk as-received, yaitu 1100°. Variasi lama penggilingan 24 jam tidak menghasilkan pembentukan rutile yang lebih baik pada pengamatan suhu yang sama dibanding penggilingan 3 jam. Variasi lama penggilingan juga menyebabkan distribusi ukuran kristal anatase semakin besar. Namun pengaruh kalsinasi tidak berakibat pada perubahan distribusi ukuran kristal rutile secara signifikan. Data pendukung dalam menentukan optimasi transformasi fasa adalah hasil analisis termal (DTA) dan mikrografi SEM.

Alt. Description

A serial investigation using x-ray diffractometer has been conducted to study the optimum mechanical and thermal condition for the transformation of anatase—»rutile. Mechanical treatment was applied by employing a conventional milling and pulverisette milling at various milling period and milling speed. Heat treatment was perfomed by calcinations at 850, 950, 975, 1000, 1050 and 1100°C for 1 hour. Each powder was milled and then calcined prior to the x-ray diffraction investigation. X-ray diffraction data were analysed using (a) profile fitting software, (b) Mozaix, an own-developed software to provide strain, crystallite size and size distribution of phases, (c) Rietica, a Rietveld applied to whole-pattern data to estimated crystallite size, strain and weight fraction of phases. Result showed that milling speed and milling up to 24 hours did not significantly change the phases composition, but enhanced the transformation temperature. Conventional milling gives better result than pulverisette milling. Conventional milling at 100 rpm for 3 hours reduces the transformation temperature from 1100°C to 1000°C. Longer milling, however, did not improve the transformation temperature. The crystallite size distribution of anatase broadened as milling time increases. However, the crystallite size distribution of the transformed rutile did not change significantly as calcination temperature increases. DTA and SEM micrographs are used to support the analysis and conclusion.